Monday, September 26, 2005

2 days in Amsterdam

Kunjungan ini terjadi pada September 17 & 18 lalu. Sebenarnya perjalanan dua hari di Amsterdam ini dalam rangka stop over alias “mampir” sebelum berangkat menuju negara tujuan utama, yaitu Ghana and Burkina Faso di West Africa (red: posting ini dibuat dari Ghana). Berhubung pesawat yang ditumpangi dari Montreal adalah KLM, maskapai punya Belanda dan harus via Amsterdam, jadinya yah kenapa nggak disempetin saja mampir sekalian. Lagi pula terlalu sayang untuk dilewatkan kota yang satu ini. Bukan apa-apa, soalnya kota ini penuh kenangan dan punya sejarah khusus dalam perjalanan hidup saya dan juga kami sekeluarga.

Ceritanya begini, kita sekeluarga dulu sempat tinggal di Belanda selama kurang lebih 3 tahunan (2000-2002), selama aku sekolah di kota Groningen, dibelahan utara Belanda. Kalau dari segi luas dan ramainya, sebenarnya Groningen sudah termasuk kota besar dan padat untuk ukuran Belanda, apalagi sebagai ibu kota province bagian utara. Tapi, kalau dibandingkan dengan kota Amsterdam yang lebih padat itu, kota Groningen ini jadi serasa kecil dan sepi. Jadi tidak heran khan, selama kita bermukim di negeri kincir angin dan bunga tulip itu kita juga sering berkunjung ke Amsterdam. Yang lebih penting juga adalah kami punya family dan teman yang tinggal disana, jadi sekalian bermain juga bisa bersilaturahmi, khan tambah pahala kalau menyambung silaturahmi. Betull nggak?

Kunjungan stop over ini juga demikian, selain mau mengenang kembali memory lama tentang Belanda, juga mengunjungi Om Parmin, Mbak Ida, Yudi dan Dwi (dua anak mereka yang sekarang sudah mulai dewasa) di Amsterdam. Selain itu, aku masih dapat kesempatan juga untuk mengunjungi sahabat kami sekeluarga, Mbak Lita dan Mas Santo di Wassenar, kota antara Leiden dan the Hague. Bersyukur sekali aku bisa bertemu lagi dengan mereka semua. Alhamdulilah jadi updated dengan cerita, berita dan knowledge yang lama ketinggalan selama ini. Thank you all for your hospitality and our friendship.

Jalan ke Archeon

Kemana saja selama di Amsterdam? Itulah pertanyaan pertama yang aku pikirkan selama 6 jam perjalanan di udara dari Montreal ke Amsterdam. Padahal hanya punya waktu dua hari di Amsterdam, jadinya harus memilih kunjungan ke tempat yang baru atau tempat yang belum sempat terkunjungi waktu lalu. Dalam berpikir itu mau juga sih rasanya pergi lagi ke Volendam, kota nelayan yang terkenal dengan studio pemotretan “Belanda Tempo Doeloe” itu. Tapi kok sendirian yah, kalau ada pasukan dari Montreal mau deh pergi kesana..yah sudah jadi nggak jadi. Pas kebetulan di pesawat ada majalah entertain, dan ada berita soal Amterdam (of course, KLM sih). Disitu salah satu artikelnya cerita tentang museum ecology di Amsterdam, namanya Archeon. Isinya itu berupa gambaran kehidupan di Belanda selama 3 periode, namanya juga museum archeology, jadi isinya sejarah Belanda pada masa jaman batu, jaman romawi, dan jaman middle age. Museum Archeon ini dibikin seperti Taman Mini, jadi ada disajikan bangunan rumah selama periode sejarah itu serta peralatannya juga. Yang serunya, museum ini dilengkapi dengan para penghuni bangunan itu dan mereka mengenakan pakaian yang sesuai dengan jamannya. Ini lihat di photo gaya manusia dan bangunannnya. Menarik sekali, coba deh kalau ada yang tinggal dekat sana atau pas mampir (seperti aku ini) sempatkan deh mampir ke Archeon ini, menarik apalagi kalau yang suka dengan sejarah..pasti suka sekali. Yang paling bagus lagi kalau kita bisa bertahan disana sampai penutupan museum ini, sekitar jam 4-4.30 sore begitu. Kita dapat menyaksikan pertunjukkan pertandingan ala Gladiator, ceritanya mengambil setting jaman Romawi. Mereka berpakaian seperti gaya orang jaman romawi pula. Pokoknya seru dan bagus, lagi pula kita nanti dapat makan gratis selesai acara pertunjukkan itu. Gaya makannya juga pakai piring, gelas, dan mangkok yg terbuat dari tanah liat (jadi di setting seperti orang dulu makan, begitu sih katanya). Ongkos masuknya lumayan reasonable, sekitar 14 Euro dan untuk kesana mudah juga karena bisa jalan kaki dari station kereta api Apa yah..lupa nih, sekitar 10 menit dari Leiden Central Station.

Typical Dutch

Kalau kita berbicara soal Belanda, kira-kira apa sih yang jadi ciri khan mereka. Selama kunjungan singkat ini aku mencoba merekam lewat gambar bebearapa hal yang rasanya mewakili typical Dutch itu: ada sepeda, bungan tulip, Ceramic blue Delf, dan juga gedung2 bangunan yang meruncing di atap. Wait for photos..

Sepeda, Tulip, Blue Delf, Bangunan

Tuesday, September 13, 2005

Visit Providence & New York

Cerita kali ini adalah rangkuman journey dari papa nadya-jasmin selama visit Providence & New York pada hari kamis (Sept. 8) sampai senin (Sept.12) yang lalu. Misi utamanya adalah melakukan koordinasi dengan Brown-Providence untuk persiapan field-trip ke West Africa, mid-september nanti, dan juga perpanjang visa tinggal dari Canadian Consular di New York. Dengan pertimbangan jarak (Montreal-Providence-New York) yang tidak terlalu jauh dan juga untuk hemat transport cost, perjalanan ini dilakukan melalui jalur darat dengan menggunakan jasa angkutan Bus Greyhound, sebuah perusahaan bus yang menghubungkan kota-kota di US dan Canada, harganya pun cukup ekonomis jika dibanding dengan jalur kereta atau air plane.

Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com

Persiapan Visa. Journey kali ini dimulai dengan permohonan visa untuk US. Kebetulan visa yang lalu sudah habis masa berlakunya per Agustus bulan lalu. Meskipun sudah berada di Canada, negara tetangga Amerika, persiapan untuk apply visa bisa juga memakan waktu lama, at least one month in advance. Dimulai dari membuat perjanjian yang bisa kita lakukan via website atau telephone, belum lagi semua itu tidak gratis alias harus bayar. Kalau via telepon sekiatr $2 per menit, sementara kalau via internet $15 per reservation (kalau mau ubah tanggal, yah bayar lagi). Setelah proses itu dan mendapat tanggal perjanjian, barulah kita bisa datang ke US Consulate yang ada di Montreal. Sesuai dengan peraturan, pengurusan US visa dari Canada berdasarkan distrik tempat tinggal. Jadinya untuk kita yang tinggal di Montreal yah harus pergi ke Consulate General di Montreal. Saya juga tahu ini karena sempat tanya waktu itu, apakah bisa dilakukannya di Quebec city (sekitar 3 jam dari Montreal), karena tanggal yang dipingini tidak tersedia di Montreal sementara ada tempat di Quebec. Dengan tegas mereka bilang, boleh saja pergi ke Quebec, tapi anda pasti tidak dilayani karena alamat domisili anda di Montreal...wah manyun deh, padahal teleponnya khan sudah bayar apalagi nyambungnya susah karena sibuk terus. Alhamdulillah, akhirnya semua urusan lancar dan aku dapat visa per 7 September.
Montreal-Providence. Setelah sianganya dapat visa US, langsung malamnya jam 11.15 pm cabut dengan bus malam dari terminal Berry-UQaM. Sampai di border jam 12.30, tengah malam tapi masih ada juga penunggu border...hebat juga mereka, begadang kali yah. Satu hal yang paling penting kalau sedang di border, harus siap dengan semua document dan bisa menjawab dengan baik semua pertanyaan serta jangan lupa pasang wajah ceria, supaya dikira bukan orang edan (yang ini serius deh, pokoknya jangan gugup aja). Kalau kasus kita malam-malam begitu mana bisa ceria atau gugup, wong sudah tengah malam, yang ada malah wajah lesu dan ngantuk karena ngantuk. Alhamdulillah semua lancar saja, hanya dalam waktu 15 menit semua selesai ternyata penumpang dalam bus kami tidak ada yang bermasalah..Okay, tarik pak supir, ayo tidur lagi penumpang..
Entah sudah berapa kali bus berhenti (rasanya sih 3 kali) untuk mengambil penumpang yang menungu di kota2 menuju Boston, kita sampai di Boston jam 6.00am pagi. Semua penumpang, at least saya, bisa tiduran di bus karena tidak penuh, jadi setiap orang bisa dapat 2 tempat duduk dan selonjoran atau rebahan badan untuk tidur. Saya sendiri kecapekan dan bangun-bangun sudah mendekati Boston. Setelah bersih-bersih sebentar dan bercuci muka ria, perjalanan saya lanjutkan ke Providence, dengan jadwal 6.30am. Sekitar 1 jam kemudian, bus sudah memasuki terminal downtown Providence, Kennedy Plaza.
Inn at Brown. Sesampainya di Kennedy Plaza, dengan cepat saya lanjutkan dengan taxi untuk langsung menuju Inn tempat menginap di Brown. Sesampai di penginapan Inn, saya dikagetkan karena ternyata tidak ada reservasi atas nama saya..bathin juga gimana sih, wong saya dapat cc email dari mereka kok. Tak tunjukkan cc email dari mereka, dan ternyata mereka benar punya juga cuma katanya reservation itu sudah di cancel... Boing-boing, kaget ke dua kali. Lho kok bisa begitu, yah sudah deh saya telepon ke office di Brown aku bilang, tapi berhubung masih pagi (belum jam 8), jadi sekretaris office belum sampai di tempat, sementara supervisor saya baru saja jalan dari rumahnya menuju office. Untungnya (masih untung khan, dasar Indonesia) petugas di Inn itu bilang, masih ada kamar kosong kok, jangan khawatir mereka hanya butuh rekonfirmasi kalau reservasi itu dibayar oleh Brown. Yah sudah, akhirnya kita menunggu sampai office buka, tapi tunggu punya tunggu saya yang nggak sabar. Pergilah saya ke office dengan membawa-bawa tas bawaan..lumayan berat juga sih, tapi biarlah supaya urusannya jelas dan lancar. Betul saja, sesampai disana baru ada manager office Tom Brady (bukan ding, Alarie yang pencandu team dari Tom Brady si Patriot NFL). Dengan bantuan dia, akhirnya Inn di telepon untuk klarifikasi dan aku dapat tempat...finally.