Kunjungan ini terjadi pada September 17 & 18 lalu. Sebenarnya perjalanan dua hari di Amsterdam ini dalam rangka stop over alias “mampir” sebelum berangkat menuju negara tujuan utama, yaitu Ghana and Burkina Faso di West Africa (red: posting ini dibuat dari Ghana). Berhubung pesawat yang ditumpangi dari Montreal adalah KLM, maskapai punya Belanda dan harus via Amsterdam, jadinya yah kenapa nggak disempetin saja mampir sekalian. Lagi pula terlalu sayang untuk dilewatkan kota yang satu ini. Bukan apa-apa, soalnya kota ini penuh kenangan dan punya sejarah khusus dalam perjalanan hidup saya dan juga kami sekeluarga.
Ceritanya begini, kita sekeluarga dulu sempat tinggal di Belanda selama kurang lebih 3 tahunan (2000-2002), selama aku sekolah di kota Groningen, dibelahan utara Belanda. Kalau dari segi luas dan ramainya, sebenarnya Groningen sudah termasuk kota besar dan padat untuk ukuran Belanda, apalagi sebagai ibu kota province bagian utara. Tapi, kalau dibandingkan dengan kota Amsterdam yang lebih padat itu, kota Groningen ini jadi serasa kecil dan sepi. Jadi tidak heran khan, selama kita bermukim di negeri kincir angin dan bunga tulip itu kita juga sering berkunjung ke Amsterdam. Yang lebih penting juga adalah kami punya family dan teman yang tinggal disana, jadi sekalian bermain juga bisa bersilaturahmi, khan tambah pahala kalau menyambung silaturahmi. Betull nggak?
Kunjungan stop over ini juga demikian, selain mau mengenang kembali memory lama tentang Belanda, juga mengunjungi Om Parmin, Mbak Ida, Yudi dan Dwi (dua anak mereka yang sekarang sudah mulai dewasa) di Amsterdam. Selain itu, aku masih dapat kesempatan juga untuk mengunjungi sahabat kami sekeluarga, Mbak Lita dan Mas Santo di Wassenar, kota antara Leiden dan the Hague. Bersyukur sekali aku bisa bertemu lagi dengan mereka semua. Alhamdulilah jadi updated dengan cerita, berita dan knowledge yang lama ketinggalan selama ini. Thank you all for your hospitality and our friendship.
Jalan ke Archeon
Kemana saja selama di Amsterdam? Itulah pertanyaan pertama yang aku pikirkan selama 6 jam perjalanan di udara dari Montreal ke Amsterdam. Padahal hanya punya waktu dua hari di Amsterdam, jadinya harus memilih kunjungan ke tempat yang baru atau tempat yang belum sempat terkunjungi waktu lalu. Dalam berpikir itu mau juga sih rasanya pergi lagi ke Volendam, kota nelayan yang terkenal dengan studio pemotretan “Belanda Tempo Doeloe” itu. Tapi kok sendirian yah, kalau ada pasukan dari Montreal mau deh pergi kesana..yah sudah jadi nggak jadi. Pas kebetulan di pesawat ada majalah entertain, dan ada berita soal Amterdam (of course, KLM sih). Disitu salah satu artikelnya cerita tentang museum ecology di Amsterdam, namanya Archeon. Isinya itu berupa gambaran kehidupan di Belanda selama 3 periode, namanya juga museum archeology, jadi isinya sejarah Belanda pada masa jaman batu, jaman romawi, dan jaman middle age. Museum Archeon ini dibikin seperti Taman Mini, jadi ada disajikan bangunan rumah selama periode sejarah itu serta peralatannya juga. Yang serunya, museum ini dilengkapi dengan para penghuni bangunan itu dan mereka mengenakan pakaian yang sesuai dengan jamannya. Ini lihat di photo gaya manusia dan bangunannnya. Menarik sekali, coba deh kalau ada yang tinggal dekat sana atau pas mampir (seperti aku ini) sempatkan deh mampir ke Archeon ini, menarik apalagi kalau yang suka dengan sejarah..pasti suka sekali. Yang paling bagus lagi kalau kita bisa bertahan disana sampai penutupan museum ini, sekitar jam 4-4.30 sore begitu. Kita dapat menyaksikan pertunjukkan pertandingan ala Gladiator, ceritanya mengambil setting jaman Romawi. Mereka berpakaian seperti gaya orang jaman romawi pula. Pokoknya seru dan bagus, lagi pula kita nanti dapat makan gratis selesai acara pertunjukkan itu. Gaya makannya juga pakai piring, gelas, dan mangkok yg terbuat dari tanah liat (jadi di setting seperti orang dulu makan, begitu sih katanya). Ongkos masuknya lumayan reasonable, sekitar 14 Euro dan untuk kesana mudah juga karena bisa jalan kaki dari station kereta api Apa yah..lupa nih, sekitar 10 menit dari Leiden Central Station.
Typical Dutch
Kalau kita berbicara soal Belanda, kira-kira apa sih yang jadi ciri khan mereka. Selama kunjungan singkat ini aku mencoba merekam lewat gambar bebearapa hal yang rasanya mewakili typical Dutch itu: ada sepeda, bungan tulip, Ceramic blue Delf, dan juga gedung2 bangunan yang meruncing di atap. Wait for photos..
Sepeda, Tulip, Blue Delf, Bangunan
0 Comments:
Post a Comment
<< Home